Ibarat sayur tanpa garam, mungkin seperti itulah Liga Indonesia jika
tidak selalu menimbulkan polemik setiap musimnya. Pemain utamanya sudah
pasti adalah PSSI dan Badan Liga. Dua aktor utama layaknya Tom Cruise
yang tak tergantikan dalam Mission Impossible nya. Mulai dari
inkonsistensi regulasi terkait kebijakan pemain U23 di setiap
pertandingan, plus tidak adanya hadiah utama berupa uang kepada sang
juara hingga polemik penentuan juara musim ini.
Bhayangkara FC yakin juara setelah mengalahkan Madura United | indosport.com
Tapi
satu yang tak kalah menariknya sudah tentu soal Persib Bandung. Sensasi
yang sudah timbul bahkan sejak sebelum liga resmi dimulai. Mulai dari
kedatangan dua pemain top dunia yang menggebrak sepakbola indonesia
hingga saat ini dimana adanya isu soal wacana degradasi akibat
mengundurkan diri dari sebuah laga ketika kontra Persija pekan lalu.
Disini
saya hanya mengatakan isu karena saya tak yakin jika PSSI berani
mengambil keputusan senekat itu. Walaupun tindakan Persib tidak bisa
dianggap sebuah pembenaran dengan cara menarik diri ketika pertandingan
masih berjalan. Referensinya tak usah jauh-jauh. Dihilangkannya regulasi
terkait kesempatan bermain para pemain muda klub Liga 1 di setiap laga
adalah salah satu contoh bahwa kebijakan PSSI bisa dinegosiasi.
Jadi,
ketika ramai perbincangan terkait bagaimana nasib Persib musim depan,
yang terlintas hanyalah apakah iya PSSI berani mengambil tindakan tegas
sesuai text book mereka. Praktisnya begini, dengan nama sebesar Persib
yang secara finansial begitu profitable bagi PSSI, akan menjadi sebuah
blunder bagi PSSI jika harus kehilangan Persib.
Termasuk dalam
salah satu penyumbang terbesar audience pertandingan, Persib juga bisa
dibilang 'pemasok' terbesar pundi-pundi kas PSSI lewat besarnya jumlah
denda yang dijatuhkan kepada Persib. Kurang anak emas apalagi coba. Lalu
terbersit pemikiran jika Persib kembali mendatangkan pemain kelas dunia
ke Indonesia, apakah PSSI akan tetap berpatokan pada regulasi yang
mereka buat sendiri?
Michael Essien dan Carlton Cole |soccer.sindonews.com
Nama
Essien, Sissoko, dan Cole tak dapat dipungkiri mendongkrak nama
Indonesia ke sorotan dunia internasional. Walaupun sayangnya dua
diantaranya harus pergi dengan catatan negatif. Carlton Cole yang
dibuang Persib dan Mohammed Sissoko yang akhirnya pergi meninggalkan
Mitra Kukar seperti dilansir sport.detik.com (08/11/2017) menjadikan
akhir cerita ala Cinderella ini harus berakhir tak sesuai harapan.
Persib
Bandung yang sepertinya akan merombak skuad timnya musim depan sudah
tentu akan mengambil tindakan yang tak kalah sensasionalnya layaknya
sebelum musim sekarang dimulai. Dengan predikat tim tersehat dari sisi
kekuatan finansial, bukan tidak mungkin Persib akan kembali menggebrak
jagad sepakbola Indonesia.
Nama Van Persie yang mencuat sebelum
akhirnya Essien yang direkrut masih merupakan rumor yang tak terelakan.
Bahkan baru-baru ini, salah satu fanbase Fenerbahce, 1907 Time,
memposting terkait isu ini di Instagramnya.
Instagram.com|@1907time
Disebutkan
bahwa Robin van Persie disangkutpautkan akan bergabung dengan Persib.
Entah apa akan menjadi kenyataan atau tidak, tidak ada yang pasti dalam
sepakbola, apalagi sepakbola Indonesia. Tapi andai benar ini terjadi,
rasanya wacana degradasi Persib hanya akan sebatas wacana saja. Dan
ujung-ujungnya desakan degradasi Persib pun akan menguap begitu saja.
Logikanya,
sudah tentu PSSI dan Badan Liga akan 'mengelus-elus' Persib dengan
menepis semua desakan degradasi entah dengan cara apapun. Tanpa Persib,
Liga Indonesia nampaknya akan kehilangan sedikit pamornya. Dengan tanpa
mengecilkan peran klub-klub besar Indonesia lainnya. Tapi tetap saja
akan menjadi sebuah kerugian jika PSSI benar-benar mendepak Persib dari
kasta tertinggi Liga Indonesia.
Tapi yang lebih menarik dan
membuat saya semakin yakin Persib tidak akan diturunkan derajatnya musim
depan adalah saling lempar tanggung jawab terkait pengambil keputusan
ini. Laman Indosport.com memberitakan bahwa pihak PT. LIB lewat COO nya
Tigorshalom Boboy mengatakan bahwa keputusan ini berada di tangan Komisi
Disiplin.
Sedangkan Komdis mengatakan bahwa wewenang ini berada
di tangan PT. Liga Indonesia Baru selaku operator kompetisi Liga 1,
seperti dilansir dari Indosport.com (08/11/2017). See! Lalu siapa yang
akan mengambil tindakan ini? Rasanya akan ada beberapa drama dalam waktu
dekat ini. Kita nantikan saja.
Sumber