AKURAT.CO, Keputusan kontroversi yang
dihasilkan oleh wasit Evans Shaun Robert semakin meruntuhkan pembangunan
tata kelola sepakbola Indonesia dalam rangka mewujudkan ambisi untuk
“berbicara banyak” di kompetisi internasional.
Sebagai pihak yang
dirugikan Shaun setelah dikalahkan Persija Jakarta, tim kepelatihan
Persib harus bekerja keras mengembalikan kepercayaan diri Achmad
Jufriyanto dan kawan-kawan menuju partai tandang ke Stadion Mulawarman,
Bontang, Rabu (8/11) untuk menantang Pusamania Borneo FC.
Bahkan begitu berefeknya kekalahan kesembilan pada pertandingan Liga 1 Indonesia 2017 pekan ke-33 ini, membuat marquee player Persib, Michael Essien menolak berkomentar atas pertanyaan jurnalis dalam acara “Media Talkshow bersama John Dykes” di Artotel Thamrin, Sabtu (4/11).
Namun,
setidaknya ada isyarat yang secara spontan terselip untuk menggambarkan
perasaan mantan pemain Chelsea, Real Madrid, dan AC Milan tersebut
pasca
Maung Bandung – nama lain Persib – “dicurangi” wasit dalam sebuah program tanya-jawab tentang delapan bulan di negeri orang.
“Tidak
semudah seperti yang dipikirkan sebelumnya bermain di Indonesia,” kata
Essien, yang duduk di samping presenter Liga Primer Inggris, John Dykes,
sehari setelah Persib mengalami kekalahan 1-0 di Stadion Manahan, Solo,
Jumat (3/11) kemarin.
“Bermain di jam 3 dan 4 sore di Indonesia
cukup berat buat saya. Tapi saya menikmati sekali bermain di Indonesia.
Saya ingin terus menjadi yang terbaik," sambung gelandang berusia 34
tahun itu.
Essien, yang datang ke Ibukota sehari pasca Persib
gagal meraih poin tersebut pun menjelaskan ketidaksamaan sepakbola di
Ghana dengan Indonesia. Dalam ucapannya tersirat bahwa
Macan Kemayoran – nama lain Persija – dan sejumlah klub lain cenderung memainkan sepakbola negatif.
“Permainan
di Indonesia sangat tertutup – lebih mengedepankan pertahanan dan
serangan balik – dibandingkan di negara saya. Itulah yang membuat banyak
perbedaan antara kedua negara,” ucap pemain yang diberi julukan The
Bison karena keunggulan box-to-box.
Sumber